Selain faktor pasokan, analisis dari Forbes menyoroti bahwa belum ada dorongan kuat dari konsumen untuk segera beralih ke generasi baru. Versi terkini seperti PS5 Pro dinilai masih sangat mumpuni untuk menjalankan gim-gim terbaru dengan performa tinggi.

Banyak gamer juga belum merasa perangkat mereka usang. Berbeda dengan era sebelumnya, peningkatan grafis dan performa antar generasi kini tidak lagi terasa revolusioner, melainkan evolusioner. Artinya, PS5 masih dianggap relevan untuk beberapa tahun ke depan.

Situasi ini membuat Sony tidak berada di bawah tekanan besar untuk mempercepat peluncuran PS6. Justru, menunggu hingga ekosistem gim dan pasokan komponen lebih stabil bisa menjadi langkah strategis jangka panjang.

Tren kenaikan harga juga menjadi pertimbangan penting. Saat pertama kali dirilis, PS5 dipasarkan di kisaran US$400. Namun dalam beberapa tahun terakhir, harga tersebut naik menjadi sekitar US$500 akibat lonjakan biaya produksi dan distribusi.

PS5 Pro bahkan dibanderol sekitar US$750. Jika tren biaya komponen terus meningkat, analis memperkirakan harga PS6 bisa menyentuh US$800 hingga US$850.

Analis senior dari MST International, David Gibson, dalam wawancaranya dengan IGN, menyebut bahwa Sony kemungkinan besar akan membebankan sebagian kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Strategi ini lazim dilakukan ketika margin keuntungan tertekan akibat mahalnya bahan baku.

Jika PS6 dirilis terlalu cepat di tengah harga komponen tinggi, konsumen bisa menghadapi harga yang jauh lebih mahal dari ekspektasi pasar. Hal tersebut berisiko memperlambat adopsi awal dan berdampak pada penjualan.

Krisis chip global bukan hanya berdampak pada Sony. Produsen konsol lain seperti Nintendo juga dilaporkan melakukan penyesuaian harga untuk konsol generasi barunya, Switch 2. Harga perangkat tersebut dipatok lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, sebagai respons terhadap kenaikan biaya komponen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri gim global sedang berada dalam fase transisi besar. Di satu sisi, permintaan hiburan digital terus meningkat. Di sisi lain, kompetisi sumber daya teknologi dengan industri AI membuat produsen harus lebih berhati-hati dalam menentukan strategi.